What Can I do, Ren...
Cowok
maskulin paling populer di sekolah ini adalah Renkun. Pria dengan tubuh
semampai dan proposional mempunyai karakter aneh.
“Dasar
penyuka sesama jenis!”
“Apa
kau bilang?”
“Kau
tuli ya?”
Renkun
menarik kaos olahraga Minmie, entah kemana mereka berjalan. Sepertinya di
tempat yang sepi.
Sakura
jadi saksi kedekatan mereka tuk yang pertama kalinya….
“Hey,
hari ini akan jadi momen penting untuk si bodoh Minmie” Renkun terus menahan
pundak Minmie yang ingin sekali menghilang kala itu.
“Apa
maksudmu?”
“Kau
akan terjebak dengan perasaanmu sendiri”
Baru
sekali ini Renkun sunggingkan senyum pada gadis konyol itu, meskipun senyuman
sinis.
“Aku
tak mengira dia bisa setegas ini saat aku mencaci. Mungkin karena Ren sudah
terlalu kesal dengan ejekan yang menimpa dirinya”
Bel
tanda jam ketiga telah berbunyi, namun Minmie masih setia dengan pakaian
olahraganya. Tanpa sadar, ia masuk kedalam kelas dengan kostum yang sama
seperti jam sebelumnya.
“Kelas
ini melarang siswa yang tidak disiplin” ucapan pak guru Oshinara membisingkan
telinga.
Seketika
Minmie berlari kabur untuk mengganti seragamnya, agar bisa masuk kedalam kelas.
Di kamar mandi telah banyak siswa kelas IPS yang terdiri atas 4 cowok. Keempatnya
ini dikenal sebagai geng kelas B.
Apa
boleh buat, guru telah melarangnya masuk kedalam kelas karena masih dengan
pakaian olahraga. Lagi pula…
“Aku
kan selama ini terbiasa sendiri, bukan aku namanya kalau tidak bisa strong”
Ren
menghela nafas dalam, “Dasar!” Perlahan Ren mengikuti Minmie agar tak ketahuan.
Beberapa
saat kemudian, Minmie tetap saja mengetahui gerak gerik Ren yang mengikutinya.
“Apa
yang kau lakukan disini?”
“Aku
hanya ingin membuktikan pada gadis tolol kalau aku bukan penyuka sesama jenis.
Ya, hanya itu”
“Jangan
macam-macam, atau....”
“Atau
aku akan membuatmu jatuh cinta pada sosok Ren, iya?” Renkun mendahului ucapan
Minmie yang terhenti karena tangannya di kendalikan pria ini.
“Sudahlah
aku muak melihatmu, kau pergi saja dan menjauh dariku”
******
“Kenapa
pintunya terkunci, aduch bagaimana aku bisa keluar”
Empat
pria dari kelas IPS B telah membuat Minmie terkunci di kamar ganti.
‘Aku
terus berteriak namun tak satupun datang membantuku, dan tiba-tiba Renkun
mendobrak pintu yang telah membelengguku di dalam. Aku merasa bersalah pada
cowok angkuh ini’
Catatan
diari Minmie mengingatkan kejadian kemarin siang, saat Renkun menjadi penyelamatnya.
“Selamat
pagi Renkun!”
“Pagi
Ren”
“Hay
Ren, kau hari ini terlihat makin tampan saja”
Pria
ini sebenarnya tak seperti yang di fikirkan kebanyakan anak-anak disana
termasuk Minmie. Mungkin dikelas dia dikenal sebagai sosok homo, karena
kemanapun selalu berduaan dengan Nanba, teman satu kelas dan satu bangu
dengannya.
“Lihatlah…
semua gadis terpesona melihat kedatanganku disekolah ini. Lalu, bagaimana
dengan kau sendiri” Sindir Ren untuk Minmie.
Ren
kembali menenteng tasnya, menuju kelas dan sama sekali tak menoleh.
Sepertinya
kau benar-benar menepati upacanmu Ren. Setelah kejadian itu, aku merasa kau tak
seperti yang ku bayangkan.
“Tidaaaaaakkkkkkkk!!!!!”
“Hey,
kau gila ya” salah seorang siswa mengejek.
Langkah
kakinya mendahului Renkun yang berjalan lebih lambat, tapi….
Pria
ini terhenti setelah satu langkah melihat Minmie yang selalu di panggilnya
dengan sebutan gadis tolol.
Kali
ini raut wajah Ren berbeda, lebih serius menatap Minmie dari kejauhan dan
kembali melanjutkan lajunya.
“Sudah
ku bilang, aku akan membuatmu jatuh cinta” Ucapnya dalam hati.
******
Perintah
pak guru Oshinara akhirnya di penuhi Minmie, ia meminta siswa satu ini
mengelilingi lapangan basket 10 putaran.
“Semua
ini gara-gara tugas matematika itu”
Hingga
sepuluh putaran sudah terlewati, tubuhnya makin melemas. Ia tak kuat lagi untuk
berteriak, kakinya terasa seperti terkilir saja.
“Berikan tanganmu”
Sosok
tinggi datang mengulurkan tangannya kepada Minmie. Renkun menatap tenang….
Tak
ingin lagi membuang-buang waktu panjang, kapan lagi ada pria tampan sepertinya
Ren menolongnya. Minmie lantas menjawab uluran tangan Ren….
‘Saat
aku berdiri… kau malah turun dan duduk jongkok. Lalu kau memintaku untuk naik
kepunggungmu. Ren, kau menggendongku… terimakasih’
“Airmatamu…”
“Ah…aku
tidak apa-apa”
“Jangan
bohong, lihatlah airmatamu menetes di tanganku”
“Aku
hanya lelah saja” tandas Minmie.
Renkun
tersenyum manis…
Mereka
terus berjalan menuju ruang UKS untuk membaringkan tubuh Minmie yang lemah. Empat
hari lamanya Minmie tak terlihat di kelasnya, surat itu berisi keterangan ijin
bawah gadis ini telah sakit. Ren tak bisa lagi menghindari kegelisahan, tapi
berat untuknya ketika harus mengutarakan perasaannya sejak pertama memasuki
sekolah Saint Mary.
“Bagaimana
jika aku hanya akan melukaimu saja”
******
Kelas
terlihat sepi, si jenius sepertinya tak masuk hari itu. Minmie hanya menduga
kalau Renkun sengaja absen.
“Andai
saja kelas ini mempunyai siswa-siwi pandai, mungkin tak akan sesepi ini saat
harus kehilangan Renkun”
Kalimat
pak guru Oshinara membuat mata Minmie terbelalak, “Apa?”
“Kau
ini kenapa? Menantangku?”
“Bukan
pak, maaf maksudku dimana Renkun?”
HAHAHAHAHAHAHA
Tawaan
teman-teman sekelas yang terkejut melihat sikap Minmie.
“Bagaimana
kau bisa sekhawatir ini padanya, biasanya kalian seperti kucing dan tikus”
tambah seorang teman lagi.
“Sudah…
sudah… hentikan!” Sahut pak guru.
“Renkun
sudah pindah sekolah sejak dua hari lalu, kasian sekali dia” imbuhnya.
“Perceraian
orangtuanya membuatnya harus berkorban pendidikan” ia mengakhiri.
Sebuah
telepon masuk di ponsel Minmie, entah nomor siapa itu…
Kring…kring…
“Halo!”
“Hai
si tolol, bagaimana kabarmu?”
“K.kk…
kau?”
“Sudahlah,
jangan menangisi kepergianku. Lebih baik kau temui saja aku nanti malam di Coffe
Shop”
Tut…tut….tutt…
“Apa-apaan
kau ini, seenaknya saja mematikan telepon tanpa memberiku kesempatan bicara”
******
Keduanya
telah berada di sebuah café, dua kursi terpasangkan sengaja dipilih Ren untuk
berbicara dengan Minmie.
“Malam
ini aku putuskan untuk meninggalkan Tokyo, mungkin kau mau mengucap maaf
padaku, silakan”
“Kau
masih saja angkuh, bagaimana mungkin aku meminta maaf padamu kalau sebenarnya
kau…”
“Kalau
sebenarnya aku telah membuatmu jatuh hati, hmmm? Kalau begitu berterimakasihlah
padaku”
Minmie
tak bisa bersuara lagi, jika apa yang di katakan Renkun seratus persen benar. Pria
itu meninggalkan kursinya, mencoba melupakan apa yang sudah menjadi kenangan
bersama Minmie meski itu semua hanya hal-hal kecil dan singkat.
“Untuk
apa kau mengajakku kemari jika pada akhirnya kau tetap saja meninggalkanku Ren?” Minmie
terbata-bata saat bicara keras agar Renkun mendengar maksudnya.
Cowok dengan
gaya rambut sedikit panjang itu menoleh, ia hanya melempar sebuah kotak kecil.
“Kotak
ini tidak terlalu besar, bahkan sangat kecil. Tapi aku tulus memberikannya
padamu. Kalung dengan liontin hati ini bisa kau simpan, siapa tahu suatu saat
aku bisa bertemu denganmu lagi dan mengajakmu menikah, aku mencintaimu tolol”
tulis Renkun, surat dalam sebuah kotak kecil.
“What
Can I do Ren….”





Tidak ada komentar:
Posting Komentar