Progress

Rabu, 29 November 2017

What Can I do, Ren...

What Can I do, Ren...


Cowok maskulin paling populer di sekolah ini adalah Renkun. Pria dengan tubuh semampai dan proposional mempunyai karakter aneh.

“Dasar penyuka sesama jenis!”
“Apa kau bilang?”
“Kau tuli ya?”

Renkun menarik kaos olahraga Minmie, entah kemana mereka berjalan. Sepertinya di tempat yang sepi.

Sakura jadi saksi kedekatan mereka tuk yang pertama kalinya….



“Hey, hari ini akan jadi momen penting untuk si bodoh Minmie” Renkun terus menahan pundak Minmie yang ingin sekali menghilang kala itu.
“Apa maksudmu?”
“Kau akan terjebak dengan perasaanmu sendiri”

Baru sekali ini Renkun sunggingkan senyum pada gadis konyol itu, meskipun senyuman sinis.

“Aku tak mengira dia bisa setegas ini saat aku mencaci. Mungkin karena Ren sudah terlalu kesal dengan ejekan yang menimpa dirinya”

Bel tanda jam ketiga telah berbunyi, namun Minmie masih setia dengan pakaian olahraganya. Tanpa sadar, ia masuk kedalam kelas dengan kostum yang sama seperti jam sebelumnya.

“Kelas ini melarang siswa yang tidak disiplin” ucapan pak guru Oshinara membisingkan telinga.

Seketika Minmie berlari kabur untuk mengganti seragamnya, agar bisa masuk kedalam kelas. Di kamar mandi telah banyak siswa kelas IPS yang terdiri atas 4 cowok. Keempatnya ini dikenal sebagai geng kelas B.

Apa boleh buat, guru telah melarangnya masuk kedalam kelas karena masih dengan pakaian olahraga. Lagi pula…

“Aku kan selama ini terbiasa sendiri, bukan aku namanya kalau tidak bisa strong”

Ren menghela nafas dalam, “Dasar!” Perlahan Ren mengikuti Minmie agar tak ketahuan.
Beberapa saat kemudian, Minmie tetap saja mengetahui gerak gerik Ren yang mengikutinya.



“Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku hanya ingin membuktikan pada gadis tolol kalau aku bukan penyuka sesama jenis. Ya, hanya itu”
“Jangan macam-macam, atau....”
“Atau aku akan membuatmu jatuh cinta pada sosok Ren, iya?” Renkun mendahului ucapan Minmie yang terhenti karena tangannya di kendalikan pria ini.
“Sudahlah aku muak melihatmu, kau pergi saja dan menjauh dariku”
******
“Kenapa pintunya terkunci, aduch bagaimana aku bisa keluar”

Empat pria dari kelas IPS B telah membuat Minmie terkunci di kamar ganti.
‘Aku terus berteriak namun tak satupun datang membantuku, dan tiba-tiba Renkun mendobrak pintu yang telah membelengguku di dalam. Aku merasa bersalah pada cowok angkuh ini’

Catatan diari Minmie mengingatkan kejadian kemarin siang, saat Renkun menjadi penyelamatnya.



“Selamat pagi Renkun!”
“Pagi Ren”
“Hay Ren, kau hari ini terlihat makin tampan saja”

Pria ini sebenarnya tak seperti yang di fikirkan kebanyakan anak-anak disana termasuk Minmie. Mungkin dikelas dia dikenal sebagai sosok homo, karena kemanapun selalu berduaan dengan Nanba, teman satu kelas dan satu bangu dengannya.

“Lihatlah… semua gadis terpesona melihat kedatanganku disekolah ini. Lalu, bagaimana dengan kau sendiri” Sindir Ren untuk Minmie.

Ren kembali menenteng tasnya, menuju kelas dan sama sekali tak menoleh.
Sepertinya kau benar-benar menepati upacanmu Ren. Setelah kejadian itu, aku merasa kau tak seperti yang ku bayangkan.

“Tidaaaaaakkkkkkkk!!!!!”
“Hey, kau gila ya” salah seorang siswa mengejek.

Langkah kakinya mendahului Renkun yang berjalan lebih lambat, tapi….
Pria ini terhenti setelah satu langkah melihat Minmie yang selalu di panggilnya dengan sebutan gadis tolol.

Kali ini raut wajah Ren berbeda, lebih serius menatap Minmie dari kejauhan dan kembali melanjutkan lajunya.

“Sudah ku bilang, aku akan membuatmu jatuh cinta” Ucapnya dalam hati.
******
Perintah pak guru Oshinara akhirnya di penuhi Minmie, ia meminta siswa satu ini mengelilingi lapangan basket 10 putaran.

“Semua ini gara-gara tugas matematika itu”

Hingga sepuluh putaran sudah terlewati, tubuhnya makin melemas. Ia tak kuat lagi untuk berteriak, kakinya terasa seperti terkilir saja.

“Berikan tanganmu”

Sosok tinggi datang mengulurkan tangannya kepada Minmie. Renkun menatap tenang….
Tak ingin lagi membuang-buang waktu panjang, kapan lagi ada pria tampan sepertinya Ren menolongnya. Minmie lantas menjawab uluran tangan Ren….



‘Saat aku berdiri… kau malah turun dan duduk jongkok. Lalu kau memintaku untuk naik kepunggungmu. Ren, kau menggendongku… terimakasih’

“Airmatamu…”
“Ah…aku tidak apa-apa”
“Jangan bohong, lihatlah airmatamu menetes di tanganku”
“Aku hanya lelah saja” tandas Minmie.

Renkun tersenyum manis…

Mereka terus berjalan menuju ruang UKS untuk membaringkan tubuh Minmie yang lemah. Empat hari lamanya Minmie tak terlihat di kelasnya, surat itu berisi keterangan ijin bawah gadis ini telah sakit. Ren tak bisa lagi menghindari kegelisahan, tapi berat untuknya ketika harus mengutarakan perasaannya sejak pertama memasuki sekolah Saint Mary.

“Bagaimana jika aku hanya akan melukaimu saja”
******
Kelas terlihat sepi, si jenius sepertinya tak masuk hari itu. Minmie hanya menduga kalau Renkun sengaja absen.

“Andai saja kelas ini mempunyai siswa-siwi pandai, mungkin tak akan sesepi ini saat harus kehilangan Renkun”

Kalimat pak guru Oshinara membuat mata Minmie terbelalak, “Apa?”

“Kau ini kenapa? Menantangku?”
“Bukan pak, maaf maksudku dimana Renkun?”

HAHAHAHAHAHAHA

Tawaan teman-teman sekelas yang terkejut melihat sikap Minmie.

“Bagaimana kau bisa sekhawatir ini padanya, biasanya kalian seperti kucing dan tikus” tambah seorang teman lagi.
“Sudah… sudah… hentikan!” Sahut pak guru.
“Renkun sudah pindah sekolah sejak dua hari lalu, kasian sekali dia” imbuhnya.
“Perceraian orangtuanya membuatnya harus berkorban pendidikan” ia mengakhiri.

Sebuah telepon masuk di ponsel Minmie, entah nomor siapa itu…



Kring…kring…

“Halo!”
“Hai si tolol, bagaimana kabarmu?”
“K.kk… kau?”
“Sudahlah, jangan menangisi kepergianku. Lebih baik kau temui saja aku nanti malam di Coffe Shop”
Tut…tut….tutt…
“Apa-apaan kau ini, seenaknya saja mematikan telepon tanpa memberiku kesempatan bicara”
******
Keduanya telah berada di sebuah café, dua kursi terpasangkan sengaja dipilih Ren untuk berbicara dengan Minmie.

“Malam ini aku putuskan untuk meninggalkan Tokyo, mungkin kau mau mengucap maaf padaku, silakan”
“Kau masih saja angkuh, bagaimana mungkin aku meminta maaf padamu kalau sebenarnya kau…”
“Kalau sebenarnya aku telah membuatmu jatuh hati, hmmm? Kalau begitu berterimakasihlah padaku”

Minmie tak bisa bersuara lagi, jika apa yang di katakan Renkun seratus persen benar. Pria itu meninggalkan kursinya, mencoba melupakan apa yang sudah menjadi kenangan bersama Minmie meski itu semua hanya hal-hal kecil dan singkat.

“Untuk apa kau mengajakku kemari jika pada akhirnya kau tetap saja meninggalkanku Ren?” Minmie terbata-bata saat bicara keras agar Renkun mendengar maksudnya.

Cowok dengan gaya rambut sedikit panjang itu menoleh, ia hanya melempar sebuah kotak kecil.



“Kotak ini tidak terlalu besar, bahkan sangat kecil. Tapi aku tulus memberikannya padamu. Kalung dengan liontin hati ini bisa kau simpan, siapa tahu suatu saat aku bisa bertemu denganmu lagi dan mengajakmu menikah, aku mencintaimu tolol” tulis Renkun, surat dalam sebuah kotak kecil.

“What Can I do Ren….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar